Featured
Posted in Puisi

Kau Tumbuh Berkali-kali Dalam Pikiranku

Kau pernah tumbuh dalam pikiranku menjadi sebatang pohon yang cabang-cabangnya terus bertambah saat kupotong.

Aku pernah merindukanmu seperti jam-jam sibuk di hari kerja yang rindu libur akhir pekan, ingatan masa kecil yang rindu kartun-kartun di hari minggu, rumah-rumah kosong yang rindu suara langkah kaki penghuni, juga perantau-perantau dari jauh yang rindu masakan ibu.

Kelak kau masa lalu. Kau sering tertidur dalam pejam kedua mataku menjadi mimpi indah yang membenci suara alarm di pagi hari, atau menjadi tamu yang sering berkunjung di saat hujan tetapi menolak untuk kupersilahkan duduk dan tak bersedia kubuatkan kopi.

Kau hanya ingin membacakanku sebuah cerita yang berakhir bahagia lalu pergi tanpa pernah menyelesaikannya.

Advertisements
Posted in Catatan lainnya

Menikmati Novel-novel Eka Kurniawan

O Cover
Sumber: Google

Perkenalan saya dengan karya Eka dimulai dengan O, novel dengan judul terpendek yang pernah saya baca namun isinya tak sesederhana judulnya. Selesai membaca saya seperti ketagihan untuk membaca novel-novel Eka lainnya (Cantik Itu Luka, Lelaki Harimau dan  Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas).

Novel-novel karya Eka identik dengan plot yang rumit serta banyaknya tokoh yang terlibat. Selain itu karya Eka juga penuh muatan filosofis, mungkin karena background pendidikan beliau yang lulusan Filsafat.

Novel “O” bercerita tentang seekor monyet betina bernama O yang jatuh cinta dan ingin menikahi kaisar dangdut bernama Entang Kosasih. O menganggap bahwa Entang Kosasih adalah kekasihnya yang sudah berhasil menjadi manusia.

Dikisahkan sebelumnya O dan Entang Kosasih adalah sepasang monyet muda yang saling mencintai yang berencana akan menikah di bulan kesepuluh. Mereka tingal di Rawa Kalong bersama kawanan monyet lainnya. Entang Kosasih ingin mengikuti jejak Armo Gundul leluhur mereka yang di ceritakan oleh monyet tua sudah berhasil menjadi manusia. Setelah tragedi revolver Entang Kosasih hilang tanpa jejak, kemudian O memutuskan pergi dari Rawa Kalong untuk mencari keberadaan kekasihnya tersebut.

O dan Entang Kosasih adalah sebagian kecil tokoh dalam novel ini karena masih banyak tokoh-tokoh lain seperti Betalumur, Polisi, Dara, Toni Bagong, anjing kecil bernama Kirik, dll. Setiap tokoh memiliki permasalahan serta kisahnya masing-masing yang sebagian besar bercerita tentang kesedihan dan kegetiran hidup.

Membaca novel ini seperti membaca sekumpulan cerita yang terpotong oleh cerita lain, tetapi Eka berhasil menggabungkannya menjadi sesuatu yang menyenangkan untuk dibaca. Banyak sekali sindiran-sindiran satir tentang perilaku manusia yang terkadang bertindak seperti hewan.

Saya selalu kagum dengan cara Eka membangun alur cerita dan menciptakan banyak tokoh serta kisah-kisah pada setiap tokohnya. Lebih kagum lagi setelah membaca tulisan kecil di halaman terakhir novel ini (2008-2016) berarti butuh waktu 8 tahun untuk menyelesaikannya? Amazing.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted in Catatan lainnya

Ronggeng Dukuh Paruk, antara Romantisme dan Sejarah Komunisme

Ronggeng Dukuh Paruk
Sumber: Google

Salah satu hal yang saya kagumi dan menjadi ciri khas karya-karya Ahmad Tohari adalah penulisan latar atau seting yang kuat. Beliau menggambarkan suasana alam dengan sangat detail, sehingga saya sebagai pembaca seakan menyaksikan langsung tempat yang di ceritakan dan merasakan seperti berada disana. Cerita dalam novel ini tidak hanya mengandung unsur romance saja, tetapi juga sejarah, politik dan juga budaya sehingga sangat menarik untuk di baca.

Novel Ronggeng Dukuh Paruk adalah trilogi yang ditulis oleh Ahmad Tohari. Dimulai dengan Ronggeng Dukuh Paruk “Catatan Buat Emak” (1982), Lintang Kemukus Dini Hari (1985) dan Jantera Bianglala (1986). Novel ini sudah diterbitkan kedalam beberapa bahasa, diantaranya Inggris, Jepang dan Jerman. Novel ini juga meraih penghargaan dari Yayasan Buku Utama pada tahun 1986.

Dengan mengambil seting waktu tahun 1940-1960an, Dukuh Paruk digambarkan sebuah desa kecil dengan keadaan masyarakat yang melarat, bodoh dan lugu. Masyarakat Dukuh Paruk sangat kental dengan adat istiadat dan kepercayaan yang kuat terhadap leluhurnya Ki Secamenggala.

Tokoh utama dalam kisah ini adalah Srintil dan Rasus, keduanya adalah anak Dukuh Paruk yang sama-sama kehilangan orang tuanya dalam tragedi tempe bongkrek di desa  tersebut. Setelah orang tua mereka meninggal Srintil dibesarkan oleh kakek dan neneknya, sedangkan Rasus dibesarkan oleh neneknya saja. Mereka banyak menghabiskan masa kecilnya bersama-sama dan saling mencintai. Srintil dengan wajahnya yang cantik dipercaya memiliki “indang ronggeng” di dalam tubuhnya yang akan menjadikannya penerus ronggeng di Dukuh Paruk yang sudah bertahun-tahun tidak memiliki penari ronggeng.

Memutuskan menjadi seorang ronggeng berarti Rasus harus merelakan Srintil menjadi milik seluruh warga Dukuh Paruk, hal itu membuat Rasus jadi sangat patah hati. Sudah menjadi tradisi dalam ronggeng di Dukuh Paruk, tugas seorang ronggeng tidak hanya menari di atas panggung tetapi juga melayani tamu di tempat tidur, tentunya dengan bayaran yang mahal. Istri-istri penduduk Dukuh Paruk akan sangat bangga dan senang bila suaminya bisa tidur dengan seorang ronggeng. Karir Srintil dan kelompok ronggengnya terus naik, penduduk Dukuh Paruk sangat memuja Srintil dan memanggilnya dengan sebutan Jeng Nganten.

Patah hati karena Srintil menjadi seorang ronggeng, ditambah dengan keadaan serta perilaku masyarakat di Dukuh Paruk yang bertentangan dengan hati nuraninya, akhirnya Rasus memutuskan pergi dari Dukuh Paruk, tepatnya menuju desa Dawuan. Di Dawuan Rasus bekerja sebagi pesuruh bagi tentara, karena kerja keras dan kegigihannya dia pun mendapatkan pendidikan militer dan akhirnya berhasil menjadi seorang tentara.

Bagian menarik di novel ini yaitu ketika ronggeng Dukuh Paruk berada di puncak kejayaanya. Kepolosan dan keluguan penduduk Dukuh Paruk serta ketenaran Srintil dan kelompok ronggengnya dimanfaatkan oleh salah satu partai politik untuk mengumpulkan masa dan menggunakannya sebagai alat propaganda. Setelah partai politik tersebut gagal melakukan kudeta pada tanggal 30 September 1965, Dukuh Paruk yang tidak tahu apa-apa juga harus menerima akibatnya. Dukuh Paruk pun akhirnya di bakar dan semakin tenggelam dalam kemelaratannya, Srintil dan kelompok ronggengnya ditahan karena dianggap terlibat dengan gerakan komunisme partai politik tersebut.

Seburuk-buruknya keadaan di sana Dukuh Paruk adalah tempat lahir Rasus, tempat dia bermain saat kecil, serta tempat dia menemukan cinta pertamanya, hal itulah yang membuat Rasus memutuskan untuk kembali ke Dukuh Paruk setelah bertahun-tahun pergi. Bagaimana kisah cinta Rasus dan Srintil selanjutnya? bagaimana nasib Dukuh Paruk setelah malapetaka tahun 1965?

Oke, jika di minta untuk memberi rating dari satu sampai lima, saya akan memberi rating lima bintang untuk novel ini, sangat menarik untuk di baca dan banyak pesan moral yang dapat kita pelajari.

 

Sumber referensi dan bacaan: http://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/artikel/Ronggeng_Dukuh_Paruk

 

Posted in Puisi

Langit Sore ini Bergambar Wajahmu

Hujan menjatuhkan banyak rindu, meluap tak tertampung di kedua mataku. Satu persatu jatuh dan tumbuh kembali, menjadi puisi yang mencoba menyentuh hatimu dengan jemarinya yang patah.

Senja tampak basah oleh hujan. Kegelisahan yang tak tertangkap layar telpon genggammu yang terlalu sibuk kau mainkan.

Huruf-huruf yang selalu gagal mengeja namaku di catatan harianmu, barangkali ada nama lain bersembunyi disana.

Selembar surat yang tersesat karena tak mampu mengingat alamat yang dituju. Dia tak pernah tiba di rumahmu, hanya tau membaca dan merobek dirinya sendiri.

Jika hujan turun lagi esok aku ingin berteduh di kedua matamu, sambil mencari tau siapa yang diam-diam sering membuatmu tersenyum sendirian di depan cermin.

Di luar jendela hujan mulai reda, tetapi rinduku makin deras jatuh ke langit, yang sore ini bergambar wajahmu.

Posted in Puisi

Perihal Sesuatu yang Kau Benci

Aku belajar menyukai hal-hal yang kau benci.

Mendengarkan suara klakson berjatuhan saat terjebak di tengah kemacetan, misalnya.

Atau saat kau mencoba tetap tersenyum kepada seseorang yang tiba-tiba menyerobot antrianmu.

Atau ketika ibumu memuji masakanmu yang terlalu asin, lalu dia berpura-pura memakannya dengan lahap, kemudian kau menyadarinya.

Juga saat kau dengan sekuat tenaga menahan air matamu agar tidak jatuh, ketika rekan kerjamu yang telah menemanimu bertahun-tahun mengucapkan kalimat perpisahan di hari terakhirnya bekerja.

Aku harap, kelak jika aku sudah menjadi masa lalu yang telah kau hapus dari ingatanmu atau telah menjadi orang paling asing dalam hidupmu kau juga belajar menyukai hal-hal yang aku benci.

Hal yang paling aku benci adalah saat menunggumu.

Posted in Puisi

Ruang Sepi dalam Kepalaku

Satu-satunya keramaian yang aku suka mungkin hanya konser rock, disana aku bisa membayangkan diriku adalah Kurt Cobain atau Eddie Vedder, atau siapa saja yang aku suka.

Keramaian lain bagiku terlihat seperti tumpukan-tumpukan tugas yang membosankan, dimana waktu disana terasa sangat panjang, jarum jam terlihat lelah karena berputar sangat lambat.

Keramaian lain bagiku terlihat seperti jeruji yang terbuat dari sekumpulan manusia, yang melihatku dengan tatapan dan senyum yang aneh, membuat bocah kecil dalam kepalaku ketakutan dan memaksanya melarikan diri.

Keramaian lain bagiku terlihat seperti tempat asing yang belum pernah kupijak, yang menjadikanku seorang petualang yang tersesat dihalaman rumahnya sendiri.

Dan jika aku harus terjebak dalam keramaian pesta yang terpaksa kuhadiri maka akan kuciptakan kesunyianku sendiri, berdiri dekat jendela lalu bersulang dengan diriku sendiri atas nama kesunyian.

Atau saat berkunjung ke toko buku yang berada di tengah mall dan terpaksa harus melewati keramaian maka akan kuciptakan kesunyianku sendiri, kututup kedua telingaku dengan earphone dan kubiarkan lagu menyentuh telingaku tanpa tersentuh suara-suara lain.

 

Posted in Puisi

Dinding Keraguan

Ada dinding tebal bernama keraguan yang sering gagal kuruntuhkan saat kita bertemu.

Dan kata-kata, aku lebih sering menyimpannya di saku celana daripada mengucapkannya padamu, atau menggantinya dengan sepotong senyum yang terlihat seperti bulan sabit atau buah apel yang tak utuh setelah kau gigit.

Senyum kita adalah bahasa yang tak pernah kita pahami, yang sering menggantikan tugas kata-kata saat kita sibuk memelihara kebisuan di dalam diri kita masing-masing.

Kebisuan telah menjadikan kita sepasang patung yang putus asa, karena terlalu lama menunggu dan tak pernah selesai dipahat.

Dan menunggu, adalah membiarkan dinding keraguanku perlahan runtuh oleh akar yang kau tanam kuat dalam jantungku, lalu dengan penuh kesabaran kau sirami dengan harapan dan cinta yang perih.